Showing posts with label tradisi. Show all posts
Showing posts with label tradisi. Show all posts

UGIQ DALAM LA GALIGO

Sejak 2011 La Galigo ditetapkan sebagai Memory of The World oleh UNESCO. Ini membanggakan kita sebagai anak bangsa. Penetapan tersebut mendorong kembali La Galigo ke permukaan. Setelah arus modernisasi di berbagai lini kehidupan mencerabut La Galigo dari masyarakat pemiliknya.


Kini, La Galigo makin marak kembali diperbincangkan. Baik mereka yang pernah mendengarkan tutur langsung dari tokoh adat, membaca langsung naskahnya, menyaksikan upacara adat yang berkaitan La Galigo, atau bahkan mereka yang tidak mampu mengeja huruf lontaraq sekalipun.


Meski berkisah tentang Luwu dan Cina, La Galigo bukan milik satu suku saja. Ia tersebar dan diwariskan dari generasi ke generasi di berbagai etnis di Sulawesi. Pewarisan La Galigo pada masyarakat, baik berupa kisah tutur, tradisi lisan massureq, manuskrip, praktik upacara adat seperti mallawolo, bahkan norma hingga nilai-nilai dasar kehidupan. Tentu saja model pewarisan La Galigo pada masing-masing generasi tidak seragam. Sangat tergantung bagaimana penyikapan sebuah masyarakat terhadap La Galigo. Namun terlepas dari hal tersebut, tokoh utama dalam La Galigo, yaitu Sawérigading dan Wé Cudai, dikenal oleh berbagai etnis di Sulawesi. Terutama kisah pernikahan antara keduanya.


Naskah La Galigo, tersebar di masyarakat dan terkadang dipusakakan. Dahulu kala, naskah ini dibacakan pada momen sakral tertentu. Seperti acara kelahiran, pernikahan, naik rumah baru, sebelum turun sawah, dan sebagainya. Juga pada momen umum, sebagai hiburan sekaligus edukasi. Semacam kegiatan menonton sinetron seperti saat ini. Pembacaan pada momen umum ini, dilakukan saat malam. Dengan cara seorang passureq membacakan naskah La Galigo, kemudian satu orang lagi menjelaskan makna tersirat pada pendengarnya. Tradisi ini bertahan sampai tahun 1980an. Hingga akhirnya hiburan TV dan elekton menggantikan posisi pembacaan La Galigo pada masyarakat.


Naskah La Galigo dibacakan oleh passureq dengan langgam yang khas yang disebut massureq selléang. Satu naskah terdiri satu episode yang disebut tereng. Terkadang dalam satu naskah tidak terdapat tanda baca untuk menandai akhir sebuah kalimat. Bahkan sering kali tidak ditemukan spasi antarkata dan kalimat. Sehingga  bagi pembaca pemula akan sangat kesulitan.


Akan tetapi bagi passureq, ini bukan masalah yang berarti. Sebab selain telah menjadi kebiasaaan, juga pola pembacaan dibagi lima penggal frasa atau kadang juga dua penggal frasa digabung menjadi 10 suku kata  dalam setiap jeda. Hal demikian dilakukan agar saat La Galigo dinyanyikan, passureq dapat menyesuaikan dengan irama lagunya.

 


Upaya pengumpulan dan penulisan ulang naskah La Galigo diinisiasi oleh B. F. Matthes. atas bantuan Colliq Pujié bersama timnya, akhirnya naskah La Galigo yang terdiri 12 jilid ini dirampungkan. Kemudian dibawa ke Belanda dan tersimpan di perpustakaan universitas Leiden dengan  kode NBG Boeg 188.


Tentu saja sulit merangkum keseluruhan La Galigo yang berbentuk naskah. Sebab naskah NBG Boeg 188 saja, sudah dinobatkan sebagai karya sastra terpanjang di dunia. Sementara, masih ada episode La Galigo yang tidak terangkum dalam naskah NBG Boeg 188. Beberapa di antaranya adalah Musuna Karaéng Tompo, Méong Mpaloé, Taggilinna Sinapatié, dan sebagainya. Dapat dibayangkan, jika keseluruhan La Galigo yang tersebar di masyarakat, di berbagai perpustakaan baik dalam maupun luar negeri ini disatukan. Pastinya akan lebih panjang lagi.


Tokoh utama dalam La Galigo, yaitu Sawérigading, dikenal sebagai Opunna Wareq. Sementara istri sekaligus sepupu sekalinya (‘sepupu sekali’: istilah yang dikenal dalam budaya Bugis untuk sesama anak dari satu garis pertalian darah atau berasal dari orang tua yang bersaudara sekandung; anak dari dua bersaudara) yaitu We Cudai dikenal sebagai Datunna Cina. Ia mewarisi jabatan dari ayahnya La Sattumpugi Opunna Cina. Pernikahan keduanya senantiasa dikenang oleh pewaris La Galigo sebagai bagian utama dari epos ini. Pernikahan yang mengulang keagungan pernikahan Batara Guru dari Botillangi dengan Wé Nyiliq Timoq dari Uriq Liu, yang dilanjutkan dengan pernikahan Batara Lattuq dari Luwu dengan Wé Datu Sengngeng dari Tompo Tikka.


Jika membaca naskah La Galigo, memang kita tidak akan menemukan kata Bugis. Sebab kata Bugis adalah istilah yang muncul di belakang. Akan tetapi semua maklum bahwa Bugis adalah pengindonesiaan kata Ugiq.  Bila menelusuri La Galigo, akan banyak ditemukan kata Ugiq. Sebab tokoh utama Wé Cudai adalah To Ugiq. Selain itu, beberapa bagian dari epos ini berkaitan dengan tokoh dan negeri Ugiq.


Pada kesempatan ini, penulis mengangkat kata Ugiq dalam La Galigo. Lebih spesifik, berdasar naskah NBG Boeg 188. Perlu dipahami bahwa naskah La Galigo bukan hanya yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden yang diberi kode NBG 188. Tetapi masih banyak naskah La Galigo dari berbagai episode yang tersebar pada berbagai museum, kolektor, dan masyarakat. Untuk komparasi antarnaskah La Galigo NBG Boeg 188 dengan naskah La Galigo yang lain, membutuhkan penelitian khusus dari para ahli.


Kembali ke naskah NBG Boeg 188, persebaran kata Ugiq dalam berbagai variasi selain nama tokoh sepupu sekali Sawérigading yaitu Panrita Ugiq, ditemukan sebanyak 310 kali. Dari total 12 jilid, hanya pada jilid 1, 3, dan 5 saja penulis tidak menemukan kata Ugiq. Kata Ugiq dalam La Galigo ini merujuk pada beberapa hal, antara lain. Komunitas, negeri, benda, bahasa.


Lebih jauh sekaitan Ugiq dalam La Galigo ini, tidak jarang kata Ugiq dipadankan dengan kata Cina. Terdapat 142 kali kemunculan kata Ugiq yang beriringan kata Cina. Baik merujuk pada komunitas dengan komunitas, komunitas dengan negeri. Adapun persebarannya ada pada jilid 2, 8, 9, 10, 11, dan 12. Sebagai contoh kutipan dari jilid 10 yaitu: “Tallettuq lempu ri Alé Cina makkélolangeng ri tana wugi”. Artinya, kita sampai dengan selamat di pusat negeri Cina, berkelana di tanah Bugis. 


Bila di naskah NBG Boeg 188 saja, telah ditemukan ratusan persebaran kata Ugiq. Bisa dibayangkan bila naskah La Galigo lainnya juga ditelusuri. Maka akan sulit untuk mengatakan, tidak ada Ugiq dalam La Galigo. Sehingga wajar bila La Galigo menjadi akar budaya To Ugiq yang dirawat dalam ingatan kolektif, upacara adat, hingga dituliskan pada naskah.


La Galigo adalah mata air kebudayaan yang tidak habis diperbincangkan. Tulisan ini tidak cukup untuk merangkum serba-serbi La Galigo. Mengingat banyaknya hal yang berkaitan La Galigo, mulai persebaran, kedudukan pada masyarakat, fungsi sosial, bahasa, konteks dan pemaknaan, aturan dan upacara adat, kondisi naskah, transformasi pengetahuan, dan sebagainya.


Namun lebih bijak bila La Galigo dibaca kembali oleh para pewarisnya. Ketimbang menjadi bahan perdebatan belaka namun masih buta huruf aksara lontaraq. Bukankah untuk majunya sebuah bangsa, buta huruf harus diberantas?


Memahami Perbedaan Pada Lontaraq dan Pappaseng

Perbedaan Pada Lontaraq dan Pappaseng sebagai Kekayaan Budaya
Sebelumnya perlu dipertegas bahwa saya bukan budayawan apalagi pallontara. Hanya pemerhati budaya yang beruntung sempat membaca beberapa naskah. Namun jauh masih banyak naskah yang belum sempat terbaca.
Saya tertarik sekaitan kearifan lokal leluhur dalam memaknai tanda tanda alam. Oleh karena itu lontara pananrang adalah favorit selama beberapa tahun belakangan ini. Apalagi hobi mancing baik di laut atau di empang "mewajibkan" pembelajaran tambahan tentang musim, cuaca dan geografis.
Suatu ketika saya diperlihatkan lontara pananrang di Maiwa Enrekang. Saat itu saya berada di Maiwa, dan saya perhatikan kejadian alam saat itu, sesuai yang tertulis di lontara. Namun pada hari yang sama, kejadian alam berbeda di tempat lain.



Gambar Ilustrasi Lontaraq TassipariamaE

Dari titik ini dapat dipahami bahwa, penulis lontara di masa lalu menulis berdasarkan pengalaman di daerahnya. Bukan daerah lain. Sementara, iklim pegunungan tentu berbeda dengan iklim pantai dan iklim dataran rendah.
Kesimpulan sementara saya adalah, penulis lontara pananrang melakukan "riset"kecil kecilan sebelum menulis lontaranya. Yaitu mencari trend dengan cara mengambil sampel selama beberapa tahun. Misalnya 1 ompona uleng (kemunculan bulan) tahun pertama = hujan, tahun kedua di tanggal sama hujan. Tahun ketiga gerimis. Tahun keempat hujan. Tahun kelima juga hujan. Dari 5 tahun sampel dari tanggal yang sama, misalnya 1 ompona uleng. Didapatkan trend 4 kali hujan dan 1 kali gerimis. Akhirnya ditulis di lontara pananrang. 1 ompona uleng : "bosi" (hujan). Kadang ditambahkan kalimat, narekko mappadai purallaloe (jika seperti sebelumnya). Jadi lebih kepada propabilitas dibanding memastikan.
Begitu pula soal kutika. Yaitu penentuan waktu waktu yang dianggap ideal melakukan sesuatu berdasar hitungan tertentu. Baik kelipatan empat, lima, tujuh, delapan, sepuluh atau yang lain. Tentu penulis memiliki landasan pengetahuan berdasar pengalaman dan kewilayahannya dalam menulis. Sehingga boleh jadi, secara umum antar kutika terdapat kesamaan. Tetapi secara khusus, terdapat perbedaan. 
Hal yang sama terdapat dalam dunia parewa bessi. Baik lontaraq maupun tutur tentang budaya parewa bessi ini ditemukan keragaman. Bahkan tidak jarang keragaman itu memiliki pendapat yang saling menegasi. Sebagai contoh : pemali wanua disambung dengan kayu lain. Artinya antara wanua dengan jonga jonga adalah satu kayu utuh. Sementara ada yang tidak mempemalikan hal tersebut. Ada yang mempemalikan pangulu tanru (gagang tanduk). Ada juga tidak. Masih banyak contoh contoh yang bisa kita lihat sebagai pertentangan.
Namun terlepas dari itu, yang penting adalah tentu orang orang tua dulu mewariskan pengetahuan berdasar pengalaman daerahnya kepada anak cucunya. Sehingga, dalam menghadapi perbedaan tersebut, yang penting adalah mencari pendapat yang berlaku didaerah atau keluarga masing masing.
Misalnya La Marupe dari daerah X yang mempemalikan pangulu tanru dan wanua sambung jonga jonga, maka kurang bijak bagi La Marupe memaksakan pendapat pada La Baco pada daerah Y yang juga punya kearifan lokal. Sekaitan perbedaan pendapat ini, contoh lain disampaikan guru kami. Misalnya La Marupe merendam dengan air kelapa bilah pusaka yang karatnya berat. Sementara, La Baco mempemalikan perendaman bilah pusaka dengan air kelapa. La Marupe mendapatkan teknik ini dari leluhurnya, yang boleh jadi waktu perendamannya tidak terlalu lama. Atau selama perendaman, selalu di periksa kondisi karat. Sehingga merendam bilah pusaka di air kelapa bisa membersihkan karat tetapi tidak sampai merusak pamor dan baja karena waktu perendaman tidak terlalu lama.
Sementara leluhur La Baco boleh jadi saat merendam bilah pusakanya dengan air kelapa terlalu lama. Sehingga reaksi kimiawi bukan hanya menghilangkan karat, tetapi juga merusak baja dan pamor pusaka. Dengan demikian wajar bila dipemalikan. Agar tidak terulang kesalahan yang sama.
Semakin general sebuah pengetahuan, maka semakin banyak kesamaan. Semakin detail, spesifik sebuah pengetahuan, maka akan terdapat semakin banyak perbedaan. Ilmu pananrang, kutika dan sissiqna gajangnge misalnya, akan seperti itu. Berbicara pada konteks umum, maka akan banyak kesamaan. Sedang semakin detail dan spesifik sesuatu itu dibanding sejenisnya, maka akan semakin banyak perbedaan. 
Tentu bukan tugas kita untuk menghakimi benar dan salah. Apalagi jika tidak memiliki kualifikasi keilmuan yang mumpuni untuk menilai. Langkah bijak apabila, mengenali dan mempelajari kearifan lokal masing masing. Kemudian menghargai kearifan lokal lain yang berbeda. Sesungguhnya perbedaan adalah identitas agar bisa saling mengenali keragaman yang ada.

Konteks Kekinian
Dapat dipahami bahwa lontaraq pananrang dibuat berdasarkan pengalaman empiris kondisi alam. Di masa lalu, kondisi alam relatif terjaga. Sehingga siklus alam lebih teratur. Dengan demikian, akan lebih mudah memprediksi kejadian kejadian alam yang akan terjadi.
Akan tetapi di masa kini, telah banyak perubahan dari alam kita. Pemanasan global, naiknya permukaan air laut, penggundulan hutan dan sebagainya. Akibatnya, siklus alam menjadi lebih "sulit ditebak". Sebagaimana diskusi dengan seorang nelayan yang curhat mengatakan : "Nappanna ndi uwita siruntu bosinna bare'e na timo'e". (Seumur hidup barusannya saya dapat dik bertemu hujannya bare dan timo). Sebuah kalimat yang menyiratkan perubahan alam yang membuatnya keliru ditebak. Bahkan ditempat lain beberapa orang mulai mengatakan, lontara pananrangnya sudah keliru dikarenakan tidak sesuai yang tertulis dan kejadian.
Pada beberapa hal, pengetahuan leluhur perlu direvisi karena perkembangan zaman yang boleh jadi tidak sempat diantisipasi para leluhur. Namun dalam beberapa hal, masih relevan di aplikasikan, bahkan di tempat lain. Sisi kemanusiaan kita tidak meniscayakan kemutlakan ada pada manusia. Tetapi manusia berikhtiar dan terus berikhtiar mencari kebenaran tanpa harus sibuk menyalahkan sesamanya manusia.

Belajar Bahasa Bugis (2) - Kata Penghubung / Konjungsi dalam Bahasa Bugis

Bahasa Bugis, sebagaimana bahasa lainnya juga memiliki kata penghubung atau konjungsi. Penggunaan kata penghubung berguna untuk menghubungkan kata dengan kata pada sebuah kalimat, atau kalimat dan kalimat dalam sebuah paragraf.

Seiring perkembangan zaman, penggunaan kata penghubung Bugis mulai tergantikan dengan kata penghubung Bahasa Indonesia. Sehingga kedepan dapat mengurangi kekayaan Bahasa Bugis itu sendiri. Sementara pendidikan Bahasa Bugis juga tidak diajarkan hingga tingkat SLTA. Sehingga penggunaan Bahasa Bugis semakin kurang.


Berikut ini kata penghubung / konjungsi Bugis yang sempat kami kumpulkan sebagai bahan edukasi kita.


Pesan Leluhur Bugis tentang Nilai Kepemimpinan

Iapa wedding riala parewa ri tanae, bettuanna makkatenni adeq, nabolaipi eppa e uangenna.
Seuani, kanawa nawapi
Maduanna, malempupi
Matellunna, waranipi
Maeepana, sugi pi


Naiya tanranna engkae nawa nawanna eppatoi uangengnna
Seuani, matau e ri DewataE
Maduanna, matau makkadada maja
Matellunna, matau mangkau sala
Maeppana, matau mala cekka

Naiya tanranna malempu e eppa to ritu uangengnna
Seuani, pogau i gau makkatutu
Maduanna, pogau i gau patuju
Matellunna, pogau i gau madeceng
Maeppana, pogau i gau tongeng tongeng

Naiya tanranna tanranna to waranie eppa to ritu
Seuani, temmatau ripariolo
Maduanna, temmatau riparimunri
Matellunna, temmatau mengkalinga kareba
Maeppana, temmatau mita bali

Naiya tanranna tosugi e eppatoi ritu
Seuani, tekkuranni nawa nawanna
Maduanna, tennakurangi pappebali ada
Matellunna, masagenai ri sininna gau e
Maeppana, tennakurangi ri sininna pattujungnge



Terjemah :
Yang dapat dijadikan perangkat adat (pejabat) di negeri, ialah yang memiliki empat hal.
Pertama, memiliki pikiran yang baik (cerdas)
Kedua, bersikap jujur
Ketiga, berani
Keempat, kaya

Adapun orang cerdas memiliki empat tanda, yaitu
Pertama, Takut pada Tuhan
Kedua, Takut mengeluarkan kata yang buruk
Ketiga, Takut mengakui yang bukan miliknya
Keempat, Takut mengambil hasil tipuan

Adapun kejujuran memiliki empat tanda, yaitu
Pertama, melakukan perbuatan berhati hati
Kedua, melakukan perbuatan benar
Ketiga, melakukan perbuatan yang baik
Keempat, bersungguh sungguh melakukan pekerjaan


Adapun tanda orang berani empat hal, yaitu
Pertama, tidak takut didorong kedepan (memimpin)
Kedua, tidak takut diposisikan dibelakang (pengikut)
Ketiga, tidak kaget mendengar berita (berita baik dan buruk)
Keempat, tidak takut menghadapi musuh

Adapun tanda orang kaya juga empat hal, yaitu
Pertama, ia tidak kehabisan akal
Kedua, ia tidak kehabisan jawaban (solusi)
Ketiga, sanggup melakukan berbagai hal
Keempat, tidak kekurangan inisiatif dalam hal yang baik

----ooo<0>ooo---

Dinamika politik negeri Bugis dimasa lalu, melahirkan banyak hal. Mulai dari tokoh, pelajaran hingga pesan yang bermuatan nilai. Pesan pesan tersebut terwariskan baik secara tutur maupun tulis dengan berbagai variasinya. Adanya ragam pesan dengan substansi yang sama atau mirip, dengan penyampaian yang berbeda, adalah bentuk kekayaan budaya itu sendiri.

Sebagaimana kerajaan-kerajaan di nusantara dan seluruh dunia yang menganut monarki, kerajaan kerajaan di Bugis pun demikian. Akan tetapi, garis darah tidak melulu menjadi syarat dalam hal regenerasi kepemimpinan dan jabatan adat. Kualitas individu dan kompetensi tetap menjadi persyaratan.

Pada artikel ini dikutip empat syarat utama, yaitu Kanawa-nawa (cerdas), Lempu (jujur), Warani (berani) dan Sugi (kaya). Kita akan bisa menemukan versi yang lain dengan substansi yang mirip atau beda pada literatur lain seperti Acca (cerdas), Lempu (jujur), Warani, dan Sugi. Versi lain misalnya, Lempu, Acca, Warani, Malabo (dermawan). Inilah yang menjadi kekayaan budaya Bugis itu sendiri. 

Yang menarik, sebuah teks tersebut diikat dengan kriteria untuk mencegah tafsir yang berbeda. Sebagai contoh. Kata Acca/Kanawa-nawa yang bila diterjemahkan dengan kata Cerdas. Boleh jadi manusia modern saat ini memahami kata "Cerdas" dengan beberapa indikator seperti paham sebuah teori, jago matematika dan sebagainya. 

Akan tetapi, dalam Pappaseng (Pesan) ini, tiap teks kriteria diberi batasan empat tanda atau indikator. Kata Kanawa-nawa (cerdas) dimaknai takut pada Tuhan, takut bertutur buruk, takut mengakui sesuatu yang bukan haknya dan takut mengambil hasil kecurangan. Cerdas dalam pemahaman leluhur Bugis, bukanlah mereka yang mampu memutar balik kata untuk menutupi keburukannya. Justru sebaliknya, Cerdas adalah mereka yang senantiasa menyadari kehadiran sang Maha Kuasa dalam tiap gerak hidupnya. Cerdas adalah mereka yang menyadari eksistensi kemanusiaannya sehingga menjaga tutur katanya.

Demikian pula teks Warani yang diterjemahkan menjadi Berani. Dalam pikiran kebanyakan orang, Keberanian identik dengan kemampuan menghadapi kekerasan. Akan tetapi, dalam Pappaseng ini, maknanya lebih kaya. Bukan hanya tidak gentar di medan pertempuran. Akan tetapi tidak gentar berada pada posisi apapun, baik didepan (pemimpin) atau dibelakang (bawahan). Ini menunjukkan sikap ksatria yang tidak rakus jabatan. Demikian pula dengan "tidak kaget mendengar berita (baik dan buruk)", lebih menunjukkan ketenangan jiwa, kesiapan mental menghadapi berbagai hal yang tidak terduga.

Sebenarnya, masih banyak makna yang bisa digali dari pesan leluhur ini. Dan masih banyak pesan leluhur yang bahkan belum digali maknanya. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat untuk semua.

Cara Mengetik Menggunakan Font Lontara di Word

Sebelum memulai mengetik menggunakan Font Lontara, terlebih dulu pastikan untuk mendownload font nya disini setelah itu, ekstrak dan simpan (install font) file nya di hard disk komputer anda di folder C: Windows/Font. File font biasanya bereksistensi ttf ( * . ttf )

Re-start aplikasi pengetikan anda (Word). Kemudian cek ketersediaan opsi font di aplikasi pengetikan anda





Demikian cara menggunakan font lontara di aplikasi pengetikan (Word). Semoga bermanfaat
.

Belajar Bahasa Bugis (1) - Kata Ganti Orang dan Milik

Oh Puangku MarajaE
Addampengi ataTTA
Amaseangngi ataTTA
PassalamaqKA ri lino lettu aheraq

Oh Tuhanku yang Maha Besar
Ampuni (dosa) hambaMU
Kasihilah hambaMU
Selamatkanlah aku di dunia hingga akhirat

Sepintas, tidak ada yang keliru dari teks doa tersebut. Namun bila diperhatikan secara seksama, penggunaan kata ganti kepemilikan (pronomina posesiva) TA = milik bersama/ kata ganti milik orang pertama jamak justru membuat makna teks doa diatas menjadi bias.
Sebelum lanjut, silahkan diperhatikan kata ganti orang (pronomina persona) dalam bahasa Bugis sebagai berikut.

Sedang untuk kata ganti kepemilikan (pronomina posesiva) dalam bahasa Bugis sebagai berikut


Untuk memudahkan memahami penggunaan kata ganti dalam tata bahasa Bugis, kita kutip contoh dialog dalam lontara Soppeng. Ketika tiga orang pimpinan kaum, Matoa Ujung, Matoa Bila dan Matoa Botto meminta agar La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili bersedia menjadi Datu Soppeng.



Matoa : naIKOna KIpopuang. MUdongiri temmatippaKENG. MUsalimuri temmadingingKENG. naIKOna mpawakKENG ri mawe mabela. namauna anamMENG na pattanroamMENG MUteai, KIteai toi.
Tomanurung : temMUbaleccoregGAq, temMU dua nawa-nawaGGA ?

Terjemah
Matoa : (dan) ENGKAUlah yang KAMI pertuan. ENGKAU menjaga kami (bagai petani menjaga padi dari burung pipit) agar KAMI tidak hampa. ENGKAU selimuti KAMI agar KAMI tidak kedinginan. (dan) ENGKAUlah membawa KAMI di dekat dan jauh. Walaupun anak KAMI, perjanjian KAMI (sebelumnya) bila ENGKAU tolak, KAMI tolak pula
Tomanurung : Apakah KALIAN tidak mencurangi SAYA, tidak menduakan pikiran pada SAYA ?

Saat ketiga Matoa berbicara (selaku orang pertama jamak) mewakili rakyat Soppeng (orang ketiga jamak). Digunakan kata ganti KI dan KENG (Ikkeng) serta Mmeng untuk mewakili orang pertama jamak dan orang ketiga jamak. Sedang untuk orang kedua tunggal (ditujukan pada Tomanurung), digunakan kata ganti orang kedua tunggal, yaitu IKO dan MU.

Sebaliknya, saat dijawab oleh La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili (sebagai orang pertama tunggal), digunakan kata ganti MU untuk orang kedua jamak sekaligus orang ketiga jamak. Yang dimaksud adalah para Matoa yang tiga bersama segenap rakyat Soppeng. 

Sepintas terkesan kurang sopan. Sebab menggunakan kata IKO (kamu). Sedang dalam bahasa Bugis, yang dianggap sopan untuk kata ganti orang kedua tunggal adalah IDIQ (kita).

Bila "disopankan", maka digunakan kata TAsalimuri yang berarti orang pertama dan kedua bersama menyelimuti. Dan IDI na KIPOPUANG. yang diterjemahkan akan berarti KITAlah yang KITA pertuan. Justru maknanya akan bias.

Baik. Kembali pada contoh teks doa diatas, bagaimana seharusnya penggunaan kata ganti agar lebih tepat. 
Oh Puangku MarajaE
Addampengi ataTTA
Amaseangngi ataTTA
passalamaqKA ri lino lettu aheraq
diganti menjadi
Oh Puangku MarajaE
Addampengi atamMU
Amaseangngi atamMU
passalamaqKA ri lino lettu aheraq

Oh Tuhanku yang Maha Besar
Maafkan hambaMU 
Kasihilah hambaMU
Selamatkan Aku didunia hingga Akhirat

Bila digunakan kata ganti TA (kita) untuk Tuhan yang Tunggal, menjadi kurang pas. Seharusnya dalam berdoa dalam bahasa Bugis, digunakan kata ganti orang kedua tunggal sebagai kata ganti pada Tuhan.

Pada konteks doa (hubungan hamba dengan Tuhan) dan perjanjian antara Raja dengan rakyat, maka digunakan kata ganti orang kedua tunggal yaitu IKO, MU bukan IDI dan TA.

Demikian, semoga bermanfaat.

12 Hal Yang Di pantangkan Seorang Raja

Di masa lalu, ketika masih zaman kerajaan. Banyak peristiwa terjadi. Sehingga menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Raja sebagai pemimpin tertinggi di masa itu, bukanlah seseorang yang bisa berbuat apa saja. Tetap ada aturan yang mengikat agar tercipta stabilitas dan harmoni di masyarakatnya.

Berikut ini petikan nasehat dari para tetuah kepada Raja di masa lalu. Yang boleh jadi, maknanya bisa disesuaikan konteksnya di masa sekarang ini. Kemudian dijadikan referensi dalam bersikap dan bertindak pada lingkup kepemimpinan berbagai sektor.

Transkrip
Seppulo dua seua-seua masennak makkasolang ri arung mangkauk e
Nakko engka arung mengkaiwi iaro seppuloe dua matu, 
sitinajani ripalesso arungnge, apa ianaritu arung kaminang macilaka makkuaero winru na
Seuani, arung mangkau pogauE sapatana
Maduanna, temmagelliangengngi tau pogau'e sapa tana
Matellunna, mappasisalangengngi pangaderengnge
Maeppana, makbunoangengngi gellinna
Malimanna, teppasitinajaengngi paccallang apasalanna siajinna
Maennenna, mammaseiengngi taue dek e apatujunna ri arungnge
Mapitunna, temmamaseiengi taue nakko engka apatujunna ri pangaderenge enrenge ri arunge
Maruana, makdampengengngi topasalae
Maserana, nakko teai ri pakaingek arungnge ri atassalangna
Maseppulona, turuengngi anakna maggau bawang
Maseppulona seddi, turuengngi anakarunna enrengnge ata ri bolana ri gau bawangi tau tebbekna
Maseppulona dua, turuengngi bainena takkaboro

Terjemahan
Dua belas hal yang sangat berbahaya bagi Raja
Jika raja memiliki salah satu dari 12 hal
Maka pantaslah diturunkan dari tahtanya, sebab tindakan raja demikian sangat celaka
Pertama, raja yang berbuat mesum
Kedua, tidak menghukum pelaku mesum
Ketiga, tingkah lakunya menyalahi aturan adat istiadat
Keempat, menjatuhkan hukuman mati saat murka
Kelima, tidak memberikan hukuman yang setimpal terhadap pelanggaran yang dilakukan kerabatnya
Keenam, mengasihi orang yang tidak berbakti pada raja
Ketujuh, tidak mengasihi orang yang berbakti pada aturan adat istiadat dan raja
Kedelapan, memaafkan orang salah
Kesembilan, bila raja tak mau diperingati kesalahannya
Kesepuluh, menuruti anaknya berlaku sewenang wenang
Kesebelas, membiarkan keluarga dan isi rumahnya berlaku sewenang wenang pada orang banyak
Keduabelas, membiarkan istrinya takabur.

Dimasa lalu, Malaweng  atau berzinah sangat dipantangkan. Bukan hanya karena berdampak pada nasab keturunan. Akan tetapi juga berdampak pada hasil panen. Orang orang dahulu percaya (ketika sistem pertanian tradisional masih diterapkan), bahwa perzinahan akan menyebabkan gagal panen. Sehingga pelakunya dihukum berat. Kegagalan panen jelas akan mempengaruhi ketahanan pangan sebuah daerah. Maka disimpulkan lah bahwa jika raja (termasuk rakyatnya berbuat mesum atau berzinah) dan pelakunya tidak dihukum maka akan merusak ketahanan pangan daerah tersebut.

Untuk poin 3, melanggar aturan adat istiadat. Berarti mengacaukan harmoni sosial. Hal ini (untuk konteks masa lalu) akan menyebabkan perpecahan bahkan pemberontakan pada daerah tersebut.

Meski terkesan sangat keras dalam berbagai jenis hukuman dimasa lalu. Akan tetapi untuk menjatuhkan hukuman, Pabbicara atau hakim tidak boleh bertindak semena-mena. Ia harus mengumpulkan berbagai informasi secara berimbang. Saat memutus perkara, ia harus bebas dari berbagai kondisi psikologis yang dapat merusak. Apalagi bila hukuman yang dijatuhkan itu hukuman mati. Bila Raja saat murka dengan mudahnya menjatuhkan hukuman mati. Maka sulit baginya untuk memutuskan dengan adil. Sebaliknya, bila kerabatnya yang melakukan kesalahan namun tidak dijatuhi hukuman sesuai adat yang berlaku, maka akan menimbulkan ketidakpercayaan pada Raja. Sehingga keluarga dan kerabat dari yang dijatuhi hukuman mati akan menolak legitimasi raja tersebut. Bahkan anggota adat kerajaan pun dapat saja terpecah menyikapi hal tersebut. Demikian untuk poin 4 dan 5.

Selanjutnya, mengasihi orang yang tidak berbakti pada Raja dan Adat istiadat dan sebaliknya menyianyiakan orang yang berbakti pada Raja dan Adat Istiadat. Setidaknya menimbulkan 2 hal. Pertama, orang akan berpikir tak perlu lagi berbakti untuk mendapatkan kasih sayang Raja. Kedua, kalau berbakti pun tidak dihargai. Dampaknya adalah bawahan akan bersikap sembrono. Tidak mengerjakan tugasnya dengan baik. Dan yang parah adalah, bawahan yang lebih mengutamakan puja puji pada Raja ketimbang kinerjanya. Dalam jangka waktu tertentu akan melemahkan negara.

Memaafkan orang salah (poin 8) dapat terpahami pada 2 hal. Pertama, yang bersalah memohon maaf. Kedua, yang bersalah tidak merasa bersalah dan tidak memohon maaf. Pada perspektif lain dapat juga terpahami tingkat kesalahan. Beberapa Pappaseng menekankan pentingnya seorang pemimpin memiliki jiwa pemaaf. Sehingga untuk menemukan titik temu Pappaseng ini. Di pahami bahwa, memaafkan orang yang salah dalam arti kesalahannya sangat berat dan/atau tidak meminta maaf. Sehingga menjadi acuan bagi orang lain untuk melakukan kesalahan serupa. Kesalahan yang kemudian makin membesar dan dimaklumi sehingga tidak lagi dianggap sebagai kesalahan.



Pada negara kerajaan, Raja sangat dipengaruhi oleh keluarga dekatnya. Anak-anak maupun kerabat dekatnya. Raja dan anggota keluarganya adalah manusia biasa yang tak luput kesalahan. Bila Raja dan anggota rumah tangga Raja melakukan kesalahan fatal dan dibiarkan. Akan menciptakan perasaan tidak adil bagi rakyatnya. Sehingga rakyatnya hilang kepercayaan. Ketidak percayaan bawahan pada pemimpin, pada gilirannya akan menjadi awal munculnya perlawanan. Intinya, seorang pemimpin dalam hal ini Raja, harus berlaku adil sehingga menciptakan kepercayaan, kebersamaan dan ketentraman di berbagai level masyarakatnya.

Istri yang takabur, akan merugikan siapapun suaminya. Termasuk permaisuri/selir yang takabur. Takabur dalam arti sudah berfoya foya dan menganggap rendah orang lain. Dengan kekuasaan suaminya, ia bisa berlaku sewenang wenang hingga mencampuri wilayah pemerintahan yang bukan wilayahnya. Untung bila sang istri memberikan masukan yang baik untuk suaminya dalam mengelola pemerintahan. Namun bila sang istri justru berfoya foya sehingga menghabiskan kas kerajaan dan berlaku sewenang-wenang, maka tentu kerajaan tersebut akan mengalami ketidakstabilan politik.

Sumber : Pangajak Tomatoa (kumpulan Pappaseng Bugis)
dihimpun oleh Zainuddin Hakim