Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

The Turning Point : Titik Balik Peradaban, Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan

Judul Asli : THE TURNING POINT Science, Society and The Rising Culture. Bantam Book, New York
Penulis : Fritjof Chapra
Penerbit : Cetakan Pertama tahun 1997 sampai cetakan keenam 2004 - Penerbit Bentang
Cetakan Ketujuh, Mei 2007 - Penerbit Jejak
Tebal : 571 halaman + xxiii

Kemajuan teknologi membawa manusia pada peradaban yang maju di satu sisi. Namun disisi lain, membawa manusia ke pinggir jurang kehancurannya. Chapra, menulis hal ironis ini dengan kalimat, "Pengeluaran militer dunia kira kira 425 Milyar Dollar....Sementara itu lebih dari lima belas juta orang meninggal karena kelaparan, lima ratus juta lainnya kekurangan gizi dengan serius"(hal 4).

Perlombaan senjata nuklir negara adidaya, menghabiskan dana besar. Sementara, dampak yang diakibatkan oleh senjata nuklir sangat mengerikan bagi bumi kita. Bahkan, terlepas dari ancaman nuklir, bencana ekologis mengancam ekosistem kita. Udara, tanah, air, perlahan dipenuhi limbah beracun sebagai dampak dari kemajuan teknologi tersebut.

Chapra menuliskan tentang pola perkembangan peradaban, mulai Sumero-Akadia, Mesir, Aegean, Syiria, Yunani, Islam, Kristen Ortodoks dan Barat dalam bentuk grafik yang berkembang, puncak dan perlahan menurun. Mengutip Toynbee, Chapra mengatakan "Terjadinya suatu peradaban itu sendiri dari suatu transisi dari kondisi statis ke aktivtas dinamis. Transisi ini mungkin terjadi secara spontan, melalui pengaruh beberapa peradaban yang telah ada atauu disintegrasi satu peradaban atau lebih ke generasi yang lebih tua" (hal.11)
Pengaruh pemikiran taoisme pada Chapra kemudian tergambar pada bagaimana peradaban itu berkembang dan menurun. Chapra menilai, peradaban kita lebih dominan aspek Yang atau maskulin. Sistem patriarki didorong dengan budaya bendawi mengarahkan pada ketidak-seimbangan budaya dan menjadi akar dari krisis peradaban kita. 
Pada bagian kedua yang terdiri dari dari dua bab, Chapra mengurai tentang Paradigma pengetahuan. Bab pertama tentang paradigma mekanistik yang berjudul "mesin dunia ala Newton". Sedang bab kedua tentang fisika baru. 

"Antara tahun 1500-1700 terdapat suatu perubahan dramatis pada cara manusia menggambarkan dunianya dan dalam keseluruhan cara berpikir mereka. Mentalitas dan persepsi baru tentang kosmos memberikan sifa sifat pada peradaban barat yang menjadi karakteristik peradaban modern. Mentalitas dan persepsi tersebut menjadi dasar paradigma yang telah mendominasi kebudayaan kita selama tiga ratus tahun yang lalu dan kini sudah hampir berubah" (hal.43)


Thomas Aquinas memadukan sistem alam ala Aristoteles dengan teologi dan etika Kristen dan menetapkan kerangka konseptual selama abad pertengahan. Hingga kemudian, kemunculan Nicholas Copernicus yang membantah pandangan geosentrik Ptolemy. Kemudian dilanjutkan dengan Galileo yang memperjelas hipotesa Copernicus tersebut.

Berikutnya, seorang Inggris, Francis Bacon merumuskan metode ilmu empiris yang menyerang filsafat tradisional. Disinilah perubahan mendasar pandangan terhadap alam. Alam dalam pandangan tradisional adalah "ibu" atau "kawan", berubah menjadi "Budak yang ditaklukkan". Chapra kemudian menilai adanya pemikiran patriarki pada pemikiran Bacon.

Rene Descartes dan Isaac Newton, menyempurnakan pemikiran Bacon. Mengutip Descartes : "Kita menolak semua pengetahuan yang hanya berupa kemungkinan, dan kita berpendirian bahwa ita hanya percaya pada hal hal yang benar benar diketahui dan tidak ada keraguan tentangnya". (hal : 49). Kebenaran menurut Descartes adalah sesuatu yang pasti secara matematis. Kebenaran mestilah dapat dihitung dan terukur. Hal ini dilandasi keyakinan Descartes bahwa bahasa alam adalah matematika. Sumbangan besar Descartes terhadap ilmu pengetahuan adalah keraguan yang mendasar sebagai metode. Kelak menjadi "hipotesa" dalam penelitian kualitatif skripsi mahasiswa.

Sebagaimana Galileo dan Descartes, Isaac Newton juga menyakini bahwa semesta sistem mekanis yang bekerja sesuai dengan hukum matematika. Keberhasilan Newton adalah mempersatukan dua kecenderungan metode dimasanya. Yaitu metode empiris induktif yang diwakili oleh Bacon dan metode rasional deduktif yang diwakili oleh Descartes. Sampai pada titik ini, paradigma mekanistik dibangun dari pemikiran Copernicus, Galileo, Bacon, Descartes hingga dikunci oleh Newton. Mulai dari sistem semesta, metode induktif  dan deduktif, atom, gravitasi hingga mekanika Newton.

Gagasan tentang kosmos kemudian mulai bergeser, saat Einstein memperkenalkan teori relativitasnya. Ia bersama tokoh macam Niels Bohr, Max Planc, Heisenberg dan sebagainya mulai mengkritisi model atom klasik warisan Newton. Temuan terbaru saat itu seperti teori quantum, partikel sub atom dan seterusnya, kemudian mempengaruhi cara pandang terhadap alam semesta.

Generasi Einsten dan kawan kawan, adalah generasi yang memperkenalkan fisika baru dan perubahan paradigma pengetahuan tentang alam semesta. Mengutip Heisenberg : "dengan demikian, dunia tampak sebagai sebuah JARINGAN PERISTIWA YANG RUMIT, dimana hubungan berbagai jenis bertukar atau tumpang tindih atau bergabung sehingga menentukan tekstur secara keseluruhan" (hal : 79)


Dapat dipahami bahwa, paradigma mekanistik yang diusung Newton dan kawan kawanlah yang membangun peradaban kita saat ini. Mulai dari fisika, biologi, psikologi, ekonomi dan sebagainya. Warisan yang masih dapat dirasakan saat ini adalah mahasiswa mengerjakan skripsi, dan menggunakan metode kuantitatif. Penggunaan hipotesa, model induksi dan deduksi, serta penggunaan statistik adalah ciri kuatnya. Terlepas dari kemajuan yang merupakan dampak dari paradigma mekanistik, peradaban manusia di sisi lain berada di jurang kehancuran.

Kritik terhadap pandangan dunia mekanistik kemudian melahirkan pandangan dunia baru yang disebut pandangan dunia sistem. Atau sering juga disebut paradigma holistik. Gagasan dasarnya disebutkan Chapra : "Sistem adalah keseluruhan yang terintegrasi yang sifat-sifatnya tidak dapat direduksi menjadi sifat-sifat unit yang lebih kecil. Pendekatan sistem tidak memusatkan pada balok balok bangunan dasar atau zat zat dasar melainkan lebih menekankan pada prinsip prinsip organisasi dasar"(hal : 319).

Adanya kesaling hubungan dan kesaling terpengaruhan sebuah entitas dengan entitas lainnya sebagai sebuah sistem adalah sesuatu yang penting dalam pandangan dunia sistem ini. Pandangan ini lebih dari sekadar sains dan ilmu humaniora. Bahkan menjangkau pemikiran timur macam Taoisme. Chapra dengan cermat mencoba menghubungkan antara sains, humaniora dengan taoisme dan melihat adanya interkoneksitas pada disiplin yang berbeda. Chapra sangat rajin meminjam pendekatan taoisme dan timur dalam membedah banyak hal.

Ia memotret adanya fenomena perkawinan metode barat dan timur sebagai dampak dari pandangan dunia sistem : "karena tradisi tradisi filosofis dan religius timur selalu cenderung memandang jiwa dan tubuh sebagai suatu kesatuan, maka tidaklah mengherankan bahwa sejumlah teknik untuk mendakati kesadaran dari tingkat fisik dikembangkan di timur, signifikansi terapeutik dari pendekatan pendekatan meditatif ini semakin diperhatikan di barat, dan banyak terapis barat menyatukan teknik kerja tubuh timur macam Yoga, Ta'i Chi, dan Aikido ke dalam perlakuan mereka" (hal 427)

Munculnya sistem pertanian organik, metode penelitian kualitatif, adalah contoh terapan dari pandangan dunia sistem. Pandangan dunia yang spiritnya adalah menjaga dunia dari kesombongan manusia atas ilmu pengetahuannya.

Manusia Bugis (Resensi)

Bisa dikatakan, buku Manusia Bugis adalah karya yang paling mampu menjelaskan eksistensi orang Bugis. Puluhan tahun di Sulawesi Selatan, konsistensi Christian Pelras ~dalam konteks peneliti luar~ mungkin hanya bisa disaingi pendahulunya, yaitu F Matthes. Mampu berbahasa Bugis halus, berkorespondensi dengan menggunakan aksara lontara, serta beretika ala orang Bugis dulu, adalah sebagian dari kemampuan Pelras. 



Buku Manusia Bugis yang terdiri dari 11 bab dan 397 halaman ini, menjelaskan berbagai hal secara komprehensif. Pada bab 1 Pendahuluan, memaparkan secara umum tentang orang Bugis seperti wilayah, bahasa dan hubungan suku tetangganya. Bab 2 (bukti dan sumber) dan bab 3 (sulawesi selatan pada masa awal) membahas tentang data arkeologis, tinggalan megalitik, epos ilagaligo, kronik dan sumber luar sebagai bahan untuk merekonstruksi pemahaman tentang sejarah orang Bugis.

Bab 4 (Peradaban awal), membahas tentang kebudayaan bendawi, sistem kepercayaan, dan kosmologi. Tentang kepercayaan Bugis kuno, Pelras menulis : ..."Dasar sistem religi Bugis pra Islam sebenarnya bersifat pribumi, meski mungkin ditemukan adanya persamaan dengan konsep religi India, baik Hindu maupun Budha.....Kalaupun ada kesamaan, itu mungkin karena bersifat universal umat manusia. Kemiripan lain dengan mitos padi dan ritual daratan asia tenggara dan Nusantara bagian barat, yang sebelumnya memperoleh pengaruh India........Sinkretisme juga memiliki peran terhadap keberadaan beberapa jejak nama dan istilah pinjaman yang menunjukkan pengaruh Buddha maupun Siwaisme, yang barangkali masuk lewat hubungan tidak langsung, khususnya Sumatera (hal. 109)". Pendapat Pelras ini sangat beralasan. Mengingat berbagai kosakata serapan India yang digunakan masa lalu (sebagian sekarang) namun tidak ditemukannya kitab suci Hindu maupun Budha dalam literatur Bugis Kuno.

Kekuasaan di Sulawesi Selatan selalu dihubungan dengan I Lagaligo. Hal ini dijabarkan Pelras pada bab 5 (Bangkitnya Kerajaan Historis). Luwu sebagai kerajaan paling dominan, perlahan mulai surut dengan kemunculan kerajaan Bone, Makassar, Wajo, Soppeng dan Sidenreng. Era Datu Dewaraja dan pasca meninggalnya, terjadi banyak peperangan yang menggoyahkan dominasi Luwu. Sementara, jatuhnya Benteng Malaka di semenanjung Melayu berdampak politik dan ekonomi terhadap Sulawesi Selatan. Hal ini dijelaskan pada bab berikutnya yaitu bab 6 (Pertarungan antara kekuasaan dan agama). Interaksi dengan Portugis menyebabkan diserapnya berbagai jenis budaya. Bahkan Kristen (Katolik) mulai diperkenalkan ke Sulawesi Selatan. Tercatat Datu Suppa dan Siang sempat di baptis. Misi Kristenisasi di kerajan Bugis sempat terhenti akibat terjadinya perang antara Sidenreng yang dibantu Gowa melawan Wajo (hal. 151). Sementara Kerajaan Makassar mulai muncul sebagai kerajaan dominan di Sulawesi Selatan, kerajaan Bugis membentuk aliansi untuk menghadapi kerajaan Makassar. Dominasi kerajaan Makassar ini tidak terlepas dari politik luar negerinya yang bersahabat dengan Portugis dan Melayu sehingga perdagangan laut Makassar meningkat. Hubungan Kerajaan Makassar dengan Kerajaan Aceh menjadi pintu kedatangan tiga datuk yang legendaris yang menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan.

Bab 7 (Masyarakat) membahas tentang perubahan budaya masyarakat Bugis. Dilanjutkan dengan penjelasan tentang kekerabatan, gender, perkawinan, stratifikasi, kerajaan, dan relasi patron-klien. Bab 8 (Kehidupan Spiritual dan Mental) membahas tentang sinkretisme, islam ortodoks, praktek keberislaman, pendidikan agama, ritual, musik dan sastra. Bab 9 (Kebudayaan Bendawi dan Kegiatan Perekonomian) membahas tentang rumah, pakaian, makanan, pertanian, penentuan waktu, nelayan dan perikanan, kerajinan, serta perdagangan laut. Khusus untuk kerajinan logam, Pelras menulis : "Dua jenis logam paling penting dalam kebudayaan Bugis adalah besi dan emas. Penguasaan teradap daerah penghasil kedua logam itulah yang agaknya menyebabkan kerajaan Luwu mengungguli kerajaan kerajaan Bugis lainnya...."(hal 296). Masih berhubungan dengan besi, Pelras melanjutkan : "Proses pembuatan senjata tradisional Bugis sarat dengan unsur unsur magis yang memerlukan ritual khusus oleh karena itu, pandai besi tertentu dianggap memiliki kekuatan luar biasa dan sebagian kalangan masih mengandalkan kekuatan badik luwu yang memiliki guratan yang tampak jelas yang konon merupakan sidik jari pandai besi yang menempa dan merautnya dengan tangan telanjang. Badik semacam itu dianggap sangat berbisa.....Senjata juga dipandang sebagai pembawa untung atau sial, bukan hanya dalam perang atau duel, namun juga dalam hal perdagangan dan percintaan" (hal. 298).  Disini Pelras memotret cara pandang orang Bugis terhadap senjata besi dengan sangat cermat.

Baca : bla bla

Bab 10 (Dunia Modern) memulai pembahasannya dengan dibubarkannya VOC dan masuknya Inggris yang menyebabkan perubahan konstelasi politik di Sulawesi Selatan. Dilanjutkan dengan kejatuhan kerajaan tradisional di tahun 1906 setelah Belanda melancarkan politik pasifikasi yang berakhir dengan ditandatanganinya Korte Veklaring. Diterapkannya hukum Belanda, masuknya Jepang, pergerakan kemerdekaan, DI/TII menyebabkan perubahan sosial di Sulawesi Selatan. Pendidikan formal, perubahan alat tenun hingga boom coklat, adalah fenomena yang merepresentasi kemodernan pada manusia Bugis yang dijelaskan dalam Buku Manusia Bugis ini. Buku Manusia Bugis ini ditutup dengan merosotnya ekonomi sosial bangsawan Bugis serta potret keberhasilan Yusuf Kalla sebagai representasi orang Bugis modern.

Judul : Manusia Bugis
Judul Asli : The Bugis
Penulis : Christian Pelras
Penerbit : Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris 2005
Penerjemah : Abdul Rahman Abu, Hasriadi, Nurhady Sirimorok
Penyunting : Nirwan Ahmad Arsuka, Ade Pristie Wahyo, J.B. Kristanto 
Tebal : 450 halaman + xxxiv

Gerakan Sosial I Tolok Daeng Magassing (Resensi Buku)

Inai lampaentengi siri na paccena Gowa kataena pattujungku naparenta balanda 
(Somba Gowa)
Inakke pa Sombangku lappassamma ammayu kabayaoja sibatu 
(I Tolok Daeng Magassing)

Siapakah gerangan yang akan menegakkan harkat dan martabat Gowa, 
sebab saya tak sudi dijajah Belanda (Somba Gowa)
Sayalah tuanku yang bersedia sebab hamba hanya sebutir telur (I Tolok Daeng Magassing)


Kekalahan Gowa dalam ekspedisi militer Belanda 1905, menyebabkan salah seorang komandan angkatan bersenjata Gowa, melakukan perlawanan. I Tolok, demikian nama lahirnya. Ia memiliki paddaengan yaitu Daeng Magassing. Daeng Yuseng, petani dari Jeneponto mengatakan bahwa I Tolok berasal dari Jeneponto, tepatnya di Kampung Tolo. Dia adalah perampok yang suka membantuk orang kecil. Mappaseleng Daeng Magau, salah seorang pasinrilik mengatakan, I Tolok berasal dari Polongbangkeng. Sedangkan Dora daeng Bali dan Baharuddin Daeng Kio mengatakan I Tolok adalah orang yang berasal dari Limbung (Bajeng). Poelinggomang mengatakan I Tolok berasal dari Limbung (Bajeng) yang sebelum ekspedisi militer (1905) menjabat sebagai komandan pada salah satu seksi pertahanan Kerajaan Gowa bagian selatan (hal.64). Ada juga pendapat mengatakan bahwa I Tolok berasal dari Polombangkeng (Takalar)
Sejak tahun 1906, terjadi beberapa tindakan perampokan bersenjata (bedil) di bekas wilayah onderafdeling Gowa (hal 52). Pemerintah Belanda menduga perampokan ini hanya kriminal belaka untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Belum ada pandangan yang menilai bahwa gerakan tersebut sebenarnya adalah bentuk perlawanan terhadap Pemerintah Belanda. Salah satu pemimpin "perampok" pada saat itu adalah I Tolok.  
Sebelum mangkat, Somba Gowa Sultan Husain meminta pada I Tolok agar melanjutkan gerakan perlawanan. Untuk itu, I Tolok diberikan sejumlah bedil, peluru, amunisi dan bahkan legitimasi pada rakyat untuk memimpin perlawanan.

Tahun 1913, terjadi penyerangan terhadap I Tolok dan pengikutnya. Namun berhasil lolos. Nanti di bulan September 1914, I Tolok kembali melanjutkan gerakannya. Ia didukung pengikutnya antara lain I Macang (cucu Ishak Manggabarani Tumabicara Butta Gowa/Arung Matowa Wajo), Abasa Daeng Manromo Karaeng Bilaji (saudara tiri Sultan Husain Somba Gowa), I Paciro Daeng Mapata (Mantan duta kerajaan Gowa untuk Bone), Daeng Tompo dan Daeng Manyengka (saudara regen polombangkeng, halaman 55)

Meski demikian, Belanda terus melanjutkan tekanannya. Tanggal 19 Oktober 1914, Belanda menyergap I Macang Daeng Barani sehingga gugur ditembak Belanda. Hal ini membuat ayahnya, I Kitti Pattalallo menyusun rencana balas dendam terhadap Belanda. Untuk itu, ia menyampaikan ke ayahandanya, Ishak Manggabarani. Namun, tidak langsung menyetujui dan menganjurkan agar menanyakan ke Belanda sebab musabab ditembaknya I Macang (hal 72). Namun tidak diperoleh jawaban yang memuaskan dari pihak Belanda.

Juni 1915, I Kitti Pettalallo dan Karaeng Manjalling mengadakan pertemuan dengan I Tolok di Manuju. I Tolok bersedia memenuhi permintaan keluarga I Macang. Untuk itu, diberi dukungan, senjata dan amunisi. Dilanjutkan dengan pertemuan lanjutan dirumah bekas regen Manuju. Hadir dalam pertemuan tersebut kelompok I Tolok, regen Tanralili dan para pengikutnya, kepala kampung Bontoparang, Tesse, Mangepong, Kunjunglata, Parangloe, dan sejumlah bangsawan dan beberapa kampung lainnya. Diperkirakan sekitar 100 orang yang hadir (hal. 77)

Dalam pertemuan tersebut, disepakati I Tolok sebagai pemimpin perlawanan terhadap Belanda. Kemudian I Tolok diberi hak untuk menguasai sebagian ornamen kerajaan Gowa (badik Ta'bule'leng) sebagai tanda pengabsahan. Upacara penjemputan ornamen tersebut secara adat

Setelah melakukan aksinya,I Tolok membagi-bagikan hasil rampokannya pada rakyat kecil. Selain itu, I Tolok juga menyerang posisi Belanda, serta mata-mata Belanda. Aksinya tidak lagi dinilai sebagai kriminal belaka. Tetapi merupakan bentuk perlawanan terhadap Belanda.

Untuk menumpas perlawanan I Tolok, Belanda menggunakan beberapa cara. Pertama, meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan pejabat bumiputera untuk menggerogoti pengaruh I Tolok di masyarakat. Kedua, menggunakan mata-mata. Ketiga, membangun jalur kereta api Makassar-Takalar untuk memudahkan mengangkut pasukan. Keempat, menjelek-jelekkan I Tolok dengan istilah "perampok". Terakhir, operasi militer (hal.90-94).

Delapan kompi pasukan Belanda didatangkan dari Jawa di Juli 1915. Namun operasi militer Belanda nanti berhasil setelah dua anak buah I Tolok membocorkan lokasi persembunyiannya. Dalam serangan itu, I Tolok bersama pengikut setianya, I Rajamang gugur.
Judul       : Bandit Sosial di Makassar Jejak Perlawanan I Tolok Dg. Magassing
Penulis    : M. Nafsar Palallo
Penerbit   : Rayhan Intermedia, Makassar
Tebal       : xi + 129 halaman
Terbitan Pertama ; Maret 2008 

Andi Makkasau, Patriot dari Suppa

Judul : Andi Makkasau Menakar Harga 40.000 Jiwa
Penulis : Sabriah Hasan
Penerbit : Pemkot Pare-Pare dan Penerbit Ombak, 2010
Halaman : xxi + 177 Halaman




Buku yang berjudul "Andi Makkasau, Menakar Harga 40.000 Jiwa" ini mengisahkan tentang kepatriotan Andi Makkasau, Datu Suppa Toa. Bersetting di era sebelum kemerdekaan, berlanjut pada revolusi mempertahankan kemerdekaan di daerah Ajatappareng secara umum.
Di bagian pertama, berkisah tentang latar belakang sejarah persentuhan dengan bangsa Eropa. Kemudian, pergolakan ditahun 1824 akibat perpindahan kekuasaan kolonial dari Inggris ke Belanda yang ditolak oleh penguasa lokal termasuk Suppa. Hingga politik pasifikasi tahun 1905 yang memaksa Raja-Raja se Sulawesi Selatan terpaksa menandatangani Korte Veklaring.

Latar belakang Andi Makkasau hingga diangkat menjadi Datu Suppa dibahas di bagian kedua. Pergerakan bawah tanah hingga terang terangan yang mendukung kemerdekaan Indonesia berujung pemecatan sebagai Datu Suppa ditahun 1938. Lepasnya tanggung jawab sebagai Datu Suppa, membuat Andi Makkasau lebih leluasa bergerak sebagai aktivis. Kemerdekaan Indonesia disikapi dengan pembentukan organisasi Penunjang Republik Indonesia (PRI).
Pasca Kemerdekaan dan Kedatangan tentara sekutu menjadi pembahasan berikutnya di bagian ketiga. Dimulai dengan Konfrensi Jongayya (15 Oktober 1945) disusul Konfrensi Pare-Pare (1 Desember 1945) yang dihadiri para aristokrat Sulawesi Selatan yang menolak kedatangan Belanda. Disusul dengan Konfrensi Malino yang diprakasai NICA (15-25 Juli 1945) yang berisi pembentukan NIT. Suasana makin memanas
Di bagian keempat, gejolak perlawanan semakin menggeliat. Sebagai realisasi Konfrensi Pare Pare, para pemuda mendaftarkan diri untuk dikirim ke Yogya mempertahankan kemerdekaan. Atas prakarsa Abdul Qahhar Muzakkar dan Andi Mattalatta setelah menghadap Jenderal Sudirman, maka dibentuklah TRI-Persiapan Sulawesi (hal.88). Selain itu, mulai bermunculan laskar laskar rakyat, salah satunya yang dibentuk Andi Makkasau. Dengan segala keterbatasan, Andi Makkasau bersama laskarnya bertempur dan bergerilya.

Kesulitan menghadapi perlawanan rakyat Sulawesi Selatan, Belanda terpaksa menurunkan korps pasukan elitnya. Bagian kelima buku ini membahas tentang kedatangan pasukan elit Belanda pimpinan Kapten Raymond Westerling. Ia melakukan operasi pembersihan dengan cara cara biadab. Bahkan penuturan beberapa saksi yang pernah melihatnya, Westerling lebih mirip seorang psikopat yang tidak punya nurani dan menembak tanpa alasan ketimbang seorang pasukan elit yang terhormat. Ia membunuhi banyak orang orang yang tak bersalah. Oleh Letnan Jenderal Spoor dan Mayor Jenderal Buurman van Breeden, Westerling telah diberi wewenang untuk melaksanakan tugasnya dan mengambil kalngkah langkah yang dipandang perlu (hal.100).

Melihat tindakan Westerling tersebut, Andi Makkasau memilih untuk tidak meninggalkan rakyatnya. Bahkan dibujuk beberapa kerabat dan pemuda pejuang untuk meninggalkan Pare Pare dan melanjutkan gerilya. Akan tetapi beliau tetap bersikeras untuk tidak pergi. Di bagian keenam, mengisahkan tentang ditangkapnya Andi Makkasau oleh tentara Belanda. Beliau bertiga dengan Kapten Tahir Dg. Tompo dan Andi Mangkau dalam keadaan terikat. Disiksa berjam jam oleh pasukan elit Belanda, ketiga patriot ini pantang menyerah. Permintaan terakhir beliau adalah bertemu istri dan anak yang baru berusia 9 bulan untuk berpamitan. Harga sebuah prinsip dan keyakinan yang begitu mahal. Yaitu berpisah dengan keluarga tercinta. Terakhir beliau ditenggelamkan di Marabombang dengan keadaan tangan terikat dan diberi batu pemberat. Innalillahi wa Innailahi rajiun. Telah gugur pejuang kusuma bangsa demi mempertahankan kemerdekaan. Kolonel TRIP Andi Makkasau sebelumnya pernah berpesan dalam bahasa Bugis "Mabbaja lalengma iyya', iko maneppa molai laleng barue" (saya hanya merintis jalan, kalian semua lah yang akan melewati jalan baru tersebut).

Baca pula resensi yang lain :





Abdul Qahhar Mudzakkar, Dari Patriot Hingga Pemberontak

Salah seorang legenda dari tanah Luwu yaitu Abdul Qahhar Mudzakkar (sering disebut Kahar Muzakkar saja). Lelaki perkasa ini terlahir dengan nama La Domeng. Hijrah ke Jawa karena dipaoppangi tanah oleh kedatuan Luwu, menjadi awal perkembangannya menjadi tokoh yang legendaris.

cek juga : Luwu di Masa Lalu

Tergabung dalam kelaskaran, ia adalah putra Sulawesi Selatan pertama yang mencapai pangkat tertinggi yaitu Letnan Kolonel. Dimana pejuang asal Sulawesi Selatan lainnya hanya berpangkat Kapten atau Letnan saja. Ia menunjukkan kualitasnya saat mengawal Soekarno di lapangan Ikada. Berbekal parang, ia menembus barikade tentara Jepang yang bersenjata lengkap agar Bung Karno dapat berpidato. Demikian pula pasukannya, Grup Seberang, telah menunjukkan taringnya saat Serangan Umum 11 Maret yang legendaris itu.

Buku karya Dr. Anhar Gonggong ini, merupakan buku yang paling tuntas membahas tentang gerakan DI/TII pimpinan Abdul Qahhar Mudzakkar. Dengan kapabilitas keilmuan, referensi data yang mumpuni, serta sikap obyektif dalam pemaparannya, membuat buku ini menjadi referensi ilmiah bagi yang tertarik mengkaji tentang hal hal yang berhubungan dengan DI/TII.

Bab I buku ini yaitu pendahuluan. Berisi alasan pemilihan subyek, permasalahan, pendekatan teori dan orientasi isi.

Penulis memperdalam tentang latar belakang Sulawesi Selatan di Bab II. Berbagai tinjauan sebagai pengantar agar pembaca dapat memahami konteks secara menyeluruh. Latar belakang meliputi kondisi geografi, sosial ekonomi, pendidikan dan agama.

Adapun tentang kondisi adat istiadat dan sosial budaya, dibahas di Bab III. Penulis membahas tentang pangadereng (adat istiadat), nilai Siri na Pesse dan sistem kekerabatan di masyarakat Sulawesi Selatan. Hal ini makin memudahkan pembaca untuk benar benar memahami konteks yang ada dibalik berbagai peristiwa.

Partisipasi masyarakat Sulawesi Selatan dalam perjuangan kemerdekaan dibahas pada Bab IV. Bab ini membahas tentang bagaimana awal mula kemerdekaan yang kemudian disusul kedatangan sekutu dan Belanda. Hingga kemudian, dibentuk berbagai laskar untuk mempertahankan kemerdekaan serta dinamika hubungan antar gerilyawan. Bab ini juga membahas awal mula kemunculan DI/TII di Sulawesi Selatan.

Tokoh sentral DI/TII di Sulawesi Selatan, yaitu Kahar Muzakkar, tentu memiliki pandangan ideologis tersendiri. Pandangan ideologis tersebut dibahas pada Bab selanjutnya yaitu Bab V. Ada perbedaan pendapat antara para founding fathers RI yang notabene seperjuangan dengan Kahar Muzakkar. Dalam kutipan suratnya pada Soekarno, Kahar menulis :

Bung Karno jang saja muliakan!
Alangkah bahagia dan agungnja Bangsa kita dibawah pimpinan Bung Karno djika sekarang dan sekarang djuga Bung Karno sebagai pemimpin besar Islam, Pemimpin besar bangsa Indonesia, tampi ke muka menjeru Masjarakat Dunia jang sedang dipertakuti Perang Dunia III, dipertakuti kekuasaan nuklir, kembali kedjalan damai dan perdamaian jang ditundjukkan oleh Tuhan dalam segala AdjaranNja jang ada didalam kitab sutji Al-Qur'an dan kitab sutji agama lainnja. (hlm : 141)

Masih di bab ini, penulis mengatakan : "Dalam pandangan Abdul Qahhar Mudzakkar Pancasila adalah sesuatu yang dipaksakan oleh Soekarno sebagai dasar negara". Dalam pada itu, terjadi pertentangan penafsiran tentang Pancasila sehingga menjadi argumen dalam pemberontakan DI/TII. Selain itu, bab ini juga berisi kritikan Qahhar Mudzakkar terhadap komunisme yang diberi ruang oleh RI, yang secara ideologis sangat bertentangan dengan DI/TII. Juga kritik terhadap Majapahitisme, yaitu paham penjajahan suku tertentu terhadap suku suku lain dinusantara yang menyaru dalam konsep keindonesiaan kala itu.

Langkah-langkah penyelesaian oleh pemerintah, dibahas pada Bab VI. Didalamnya dijelaskan tentang ajakan damai dari pihak pemerintah (perdana menteri Mohammad Natsir) dengan mengajukan beberapa syarat antara lain :
- Para Pedjuang nasional di Sulawesi Selatan diterima sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia
- Tidak akan diadakan tuntutan terhadap tindakan tindakan yang dilakukan sebelum masuk. (hlm : 152)
Setelah itu, anggota KGSS diangkat menjadi CTN (Corps Tjadangan Nasional) yang berbagi beberapa batalyon. Tanggal 24 Maret 1951, Abdul Qahhar Mudzakkar beserta batalyon batalyonnya dilantik oleh Letnan Kolonel Suwido yang mewakili menteri pertahanan.

April-Juli 1951, terjadi pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dipimpin oleh Kapten Lapanu Dg Manati dan Batjo Dg Sikki. Menyikapi hal ini, komandan CTN (Abdul Qahhar Mudzakkar) mengajukan agar diberi kepercayaan untuk melakukan operasi pembersihan (hlm 154). Namun usul ini ditolak oleh pimpinan APRIS sehingga terjadi ketegangan. Berbagai langkah diplomatis dilakukan untuk meredakan ketegangan hingga akhirnya opsi terakhir yaitu operasi militer pun diambil.

Operasi Tumpas dipimpin langsung oleh Panglima Komando Indonesia Timur yang mempunyai komando tempur dengan nama Komando Operasi Kilat yang dipimpin langsung oleh Pangdam XIV Hasanuddin, Kolonel Andi Muhammad Yusuf (hlm : 170). Operasi Kilat ini berlangsung hingga 5 April 1964 yang difokuskan untuk menyerang posisi Andi Selle yang kemudian meninggal karena sakit jantung. Sehingga fokus berikutnya selama April 1964 hingga 2 Februari 1965 difokuskan untuk menyerang posisi Abdul Qahhar Mudzakkar. Dalam keterangan resmi, Abdul Qahhar Mudzakkar dilaporkan meninggal ditembak oleh Kopral Sadeli.

Bab VII sebagai bab terakhir berisi  melemahnya Abdul Qahhar Mudzakkar serta kelemahan gagasan Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII) yang digagasnya. Mulai dari keluarnya Andi Selle dari CTN disusul Andi Sose kemudian Usman Balo. Ketiganya merupakan bekas komandan Abdul Qahhar Mudzakkar yang tentu melemahkan posisinya. Selanjutnya menyusul "tangan kanan" sang komandan, yaitu Letnan Kolonel RPI Bahar Mattaliu yang didahului beberapa perbedaan pendapat dengan sang komandan, Kolonel RPI Abdul Qahhar Mudzakkar. Bab ini ditutup dengan penjelasan terhadap akibat yang ditimbulkan gerakan DI/TII baik skala nasional maupun lokal. (arm)

Judul : Abdul Qahhar Mudzakkar Dari Patriot Hingga Pemberontak
Penerbit : PT Grasindo, Jakarta 1992
Penulis : Dr. Anhar Gonggong
Tebal : 252 halaman

Luwu di Masa Lalu (Resensi Buku : Kerajaan Luwu Catatan Gubernur Celebes 1888 D.F.Van Braam Morris)

Salah satu kunci sejarah Sulawesi Selatan adalah Luwu. Betapa tidak, Luwu termasuk kerajaan tertua yang memiliki wilayah yang sangat luas. Dengan tanah yang subur lagi kaya, memungkinkan Luwu menjadi salah satu kerajaan terkemuka dalam sejarah.

Buku berjudul Kerajaan Luwu, Catatan Gubernur Celebes 1888 D.F. Van Braam Morris, memuat gambaran sang gubernur tentang kerajaan Luwu. Antara lain tentang sejarah, negeri, penduduk dan pemerintahan. Buku yang sejatinya berjudul Het Landschaap Loehoe, Getrokken uit een Rapport van den Gouverneur van Celebes, deen her adalah catatan sang gubernur Morris. Hal ini menunjukkan kinerja sang gubernur yang bukan hanya mengelola pemerintahan namun merangkap sejarawan, antropolog sekaligus politisi.

Sejarah
Sang gubernur Morris mencatat beberapa hal penting. Tentang adanya sumber lisan sejarah Luwu abad ke-10 hingga 14. Kemudian, era Tunipallangga, era Perang Makassar, era Batari Toja, era perang VOC melawan Wajo (1741), hingga era Pajung Luwu dimasanya (Iskandar Aru Larompong Datu Luwu). Van Braam Morris juga bercerita tentang Ilagaligo, mulai dari To PalanroE, Batara Guru, Sawerigading, Sang Hyang Serri, Anakaji, Mancapae, hingga susunan Datu Luwu 14 (masuk Islam) hingga Datu Luwu 29 Iskandar Aru Larompong. Khusus tentang Mancapae, sang gubernur mengangkat beberapa pendapat tentang daerah yang juga bernama Mancapae selain Majapahit. Satu di Pattiro Bone, dan yang satu di antara Paria-tanasitolo.


Van Braam Morris juga mengaitkan antara Datu Luwu saat itu dengan Datu Soppeng (Tonampeng Arung Sengkang Matinroe ri Watu) sebagai berpotensi merugikan Kompeni. Van Braam Morris mengatakan : "Oleh karena Aru Sengkang dan Aru Larompong dari pihak ibu berasal dari keturunan Wajo, menjelaskan bahwa sekalipun tidak secara terang-terangan, tetapi waktu dapat berbuat (doengelden) yang merugikan kita di Luhu dan terutama dalam urusan memenuhi kontrak Wajo disaat itu akan memberikan nasehat pada Luhu supaya menolak" (hal : 4). Nampaknya sang Gubernur mengurai secara sistematis mulai dari awal sejarah Luwu hingga analisa politik terkininya.

Negeri
Van Braam Morris menyebut batas-batas kedatuan Luwu. Mulai di selatan (sungai buriko), tobungku (keresidenan ternate), poso dan tojo (keresidenan manado), ajatappareng, massenrempulu, mandar (sebelah barat). Juga disebut bahwa Danau Poso adalah wilayah kedatuan Luwu yang dihuni orang Toraja yang biasa memberikan penghormatan pada Datu Luwu yang baru.

Wilayah Luwu yang dicatat Gubernur adalah, Mengkoka, Lelewau, Ussu, Wotu, Baebunta, Panrang, Rongkong, Seko, Bua, Olang, Masamba, Walenrang, Larompong, Suli, Cimpu, Bariko. Ibukota Palopo dan sekitarnya  yang secara umum dinamai WARA, merupakan bagian tersendiri. (hal : 16-17).

Selanjutnya termasuk wilayah Luhu yaitu hampir semua suku Toraja atau negeri negeri di Sulawesi bagian tengah (7 wilayah). Di sentral sulawesi (4 wilayah), ujung barat laut teluk Bone (21 wilayah), dari Palopo ke arah selatan (8wilayah), dan Palopo ke arah timur (27 wilayah).

Sang Gubernur juga mencatat tentang nama-nama sungai, aktivitas ekonomi di sungai tersebut, musim, kopi, tanaman, binatang, kerajinan, komuditas perdagangan, taksiran produksi sagu, hingga alat transaksi.

Penduduk
Secara sederhana, Van Braam Morris hanya membagi dua penduduk Luwu. Pertama, orang Luhu yang disebut sebagai To Oegi dan orang Toraja yang mendiami pegunungan. Van Braam Morris mengutip pendapat Junghun dan De Hollander tentang asal usul To Luhu.

Pola hidup, kebiasaan serta prilaku negatif To Luhu pun tak lepas dari catatan Van Braam Morris. Demikian pula pembagian kelas di masyarakat, gelar kebangsawanan dan sapaan, derajat kebangsawanan, aktivitas perdagangan budak, bentuk rumah, bahasa, aksara, jumlah rumah di Palopo dan Mengkoka, hingga jumlah penduduk secara keseluruhan.


Pemerintahan
Susunan pemerintahan Kedatuan Luwu disebutkan Van Braam Morris secara lengkap. Mulai dari syarat, hukum pewarisan jabatan, kemestian adanya calon dan pelantikan Pajung. Demikian pula penjelasan tentang Opu Cenning, dan Majelis Tertinggi yang terdiri dari Opu Patunru, Opu Pabbicara,Opu Tomarilaleng dan Opu Balirante. Adapun Opu Cenning, termasuk dalam Majelis ini (hal : 86). Dahulu kala, mereka digelari To Maraja yang kemudian dihapuskan oleh Gubernur Sulawesi (kemungkinan di era Speelman). Adapun Opu Patunru juga digelari Makkadangnge Tana.

Selanjutnya Majelis rendah dalam Kedatuan Luwu disebutkan Ade AseraE yang terdiri dari Opu Maddika Ponrang, Opu Maddika Buwa, dan Opu Maddika Baebunta sebagai bagian tertinggi. Kemudian dibawahnya ada Opu Wage, Opu Cenrana, Opu Goncingnge, Opu Macangnge, Opu KamummuE, dan Opu Lalantonro.

Menariknya, tupoksi dari tiap jabatan pun dipaparkan Van Braam Morris. Seperti tugas Opu Pabbicara, Opu Tomarilaleng dan Opu Balirante. Sementara Pangadereng MacowaE yaitu Opu Wage bertugas sebagai Anregurunna Pammpawa Epu dan Opu Cenrana bertugas sebagai komandan pasukan istana atau Anregurunna Ana Rioloangnge.

Adapun vassal Luwu dikepalai antara lain : Opu Palempa to Rongkong (Rongkong), Opu Palempa to Ussu (Ussu), Mangkole ri Matana (Matana), Opu Mencara Oge (Wotu), Opu Mencara Malili (Lelewau ). Opu Palempa to Bentuwa (Bentuwa. Datu (Aru) Larompong (Larompong), Opu Palempa to Suling (Suling), Opu Maddika ri Masamba (Masamba), Opu Maddika ri Panrang (Panrang), Opu to Paninggowang (Paninggowang dan Seko), Opu Olang (Olang), Opu Palempa to Walenrang (Walenrang), Opu Mencara Borau (Borau), Opu Cimpu (Cimpu) dan Aru Bariko (Bariko). Adapun suku Toraja masing masing mempunyai seorang Madika sebagai kepala dibantu dengan Tomakaka.(hal : 90). Kewajiban daerah vassal (kepala daerah dan rakyatnya) kepada Datu juga disebut. Misalnya To Rongkong diserahi urusan mengenai keselamatan raja. To Masamba dalam hal membawa ramuan dan membangun/merenovasi istana (LangkanaE).

Sedang, model pemungutan pajak, peran dan fungsi bissu, peran dan fungsi Parewa Sara (Kali, Imang, Doja dst) juga dipaparkan secara sepintas. Juga disebutkan tentang kewajiban orang Toraja tiap tahun untuk mempersembahkan semua produksi dalam negerinya seperti emas, besi, kelewang, lilin, madu hingga bakul (hal : 96)



Pamor dan Sissi' pada Polobessi Sulawesi (Resensi Buku : Pamor dan Senjata Pusaka Sulawesi dan Maknanya)

Di masa lalu, Sulawesi (tepatnya Luwu) dikenal penghasil besi. Kerajaan Luwu yang dikaruniai tanah yang kaya dengan kandungan besi, dimasa lalu sering mengekspor ke berbagai kerajaan lain dinusantara. Dengan kualitas Panre yang mumpuni, konsepsi kosmos masyarakat, menyebabkan kayanya karya-karya senjata besi (Polobessi) baik senjata tikam seperti badik, keris, senjata tebas seperti alameng, sinangke, maupun tombak.

Banyak pendapat mengaitkan produksi besi ini dengan asal mula kata Sulawesi. Hingga hari ini di Sulawesi (khususnya selatan dan barat) bertebaran berbagai jenis senjata pusaka dengan pamor yang beragam.
Sampul buku
 Orang Sulawesi umumnya mencintai besi. Di masa lalu, sebilah badik atau keris dianggap sebagai saudara sehidup sematinya. Selain itu, orang Sulawesi suka menyimpan atau mengoleksi berbagai ragam besi.

Cek : Perang dalam tradisi Bugis Makassar

Secara pribadi, saya lebih suka memahami sissi' sebagai "karakter khas berdasar bentuk benda bersangkutan". Dalam naskah lontara, ada yang menjelaskan tentang sissi' meong, sissi' anynyarang, sissi' tau dan sebagainya (Sissik kucing, kuda, manusia dsb). Demikian pula sissi' bessi.
Dalam buku "Pamor Senjata Pusaka Sulawesi dan Maknanya", Pamor didefinisikan sebagai "Ure' (urat) atau rupa berupa motif dan guratan tertentu yang dihasilkan dari proses penempaan bahan pamor senjata pusaka sehingga menghasilkan bentuk disebut pamor".

Di masa lalu, ketika seseorang memesan senjata (badik, keris dsb), maka biasanya sang Panre akan menanyakan (atau berusaha memahami karakter pengguna). Sehingga dalam proses pembuatannya, sang Panre akan menyesuaikan pamor dan sissi' besi yang dihasilkan dengan karakter individu si pemakai. Dengan demikian, polobessi ini menjadi identitas bagi pemakai. Begitu sang pemakai pertama hendak mewariskan pusaka pada keturunannya, ia akan memilih anak/keturunan yang karakternya paling mendekati dirinya. Sehingga sangat sering dalam sebuah keluarga, diantara banyak anak/keturunan, hanya anak/keturunan tertentu saja yang diwariskan pusaka.
(Dua Lalan dan Badik Luwu : koleksi pribadi)
Pada buku yang ditulis saudara A.Tenriewa yang berjudul "Pamor dan Senjata Pusaka Sulawesi dan Maknanya" disebutkan 39 pamor pilihan. Buku yang isinya full color ini membuat pembaca dalam melihat detil pamor dan memahami penjelasannya. Diantara pamor tersebut adalah, Daung Ase, Kurissi, Uleng-mpuleng, Bunga Cella'/Pejje, Kuribojo, Mabbalesse, Cappa palari, dan sebagainya.
Contoh Tombak

Menariknya, karena selain gambar yang jelas dan keterangan yang detail, juga dipaparkan tentang makna maupun filosofi dari pamor tersebut. Selain itu juga berisi petunjuk bagi yang berminat untuk memiliki senjata besi.(bab II). Disebutkan 5 acuan untuk bahan pertimbangan antara lain :
  1. Sisi keindahan (Pamor dan warangka yang indah)
  2. Tingkat sepuh (Ketuaan)
  3. Keunikan bentuk dan pamor
  4. Tuah dan makna filosofi pamor
  5. Gabungan semua diatas (hal. 9)
Buku ini juga mengutip Lontara Bessi (bab III) tentang bagaimana cara mengenali tanda baik atau buruk pada ragam polobessi. Selanjutnya dibahas tentang mengenali ragam pamor dan ketandaan yang diungkap lontara (bab IV). Jenis pamor yang tergolong langka (bab V). Buku ini ditutup dengan saran dan pendapat penulis tentang hal yang perlu diperhatikan dalam memilih senjata pusaka (bab VI).  Buku Pamor dan Senjata Pusaka Sulawesi dan Maknanya, adalah referensi wajib bagi pencinta pusaka sulawesi. Mengingat minimnya karya tulis tentang Polobessi dan sulitnya mengakses pengetahuan tentang polobessi.(arm)

Untuk pemesanan : www.badiksulawesi.com
Judul : Pamor dan Senjata Pusaka Sulawesi dan Maknanya
Pengarang : Tenri Ewa
Penerbit : Nerbitkanbuku.com (grup CV.Writing Revolution)
Halaman : 142 + vi full color
Cetakan : Pertama, Januari 2014

Kunjungi Artikel Terkait