Selama beberapa pekan terakhir, sempat ramai kisah tentang Risna. Seorang gadis yang gagal bersanding dengan lelaki pujaan hatinya karena terkendala soal biaya pernikahan. Sebelumnya saya ingin bersimpati dengan cobaan yang dialami Risna dan mendoakan semoga bisa melewati masa-masa sulitnya.
Sebenarnya, apa yang dialami Risna, adalah hal yang dialami banyak perempuan lain di Sulawesi Selatan. Namun tidak seramai kisah Risna. Mungkin kurang dipublish atau kurang didramatisir. Menariknya, sebuah acara di stasiun TV tertarik untuk mengangkat kisah Risna. Sebuah masalah yang sebenarnya bersifat internal keluarga kemudian dijadikan wacana nasional. Untuk menghindari saya turut dalam proses "dramatisasi" tersebut, maka tulisan ini difokuskan untuk mengangkat dinamika antara budaya tradisional dan modern di Sulawesi Selatan.
Terlepas dari itu, pastinya Adat dan Budaya selalu menjadi kambing hitam atas kegagalan bersatunya dua insan. Hal ini kemudian menjadi rumit. Satu sisi, ada perspektif yang berbeda yang dipahami oleh para "stake holder" pernikahan yaitu orang tua, paman, tante dan kakek nenek dari perempuan. Sisi lain, pandangan manusia modern tentang cinta yang cenderung liberal yang menganggap Adat dan Budaya sebagai penghambat kemajuan. Poinnya, perbedaan perspektif.
Posisi Perempuan Sulawesi Selatan di Masa Lalu
Perempuan adalah SIRI. Ia adalah lambang kehormatan sebuah keluarga. Di masa lalu, sekedar mencolek anak gadis sudah bisa berujung maut. Perempuan tidak dibiarkan bebas bergaul dengan laki laki. Apalagi bebas gonta ganti pacar.
Meski demikian, ruang sosial perempuan tidak tertutup sama sekali. Ia bisa mengisi sektor ekonomi dan politik di masyarakat. Tak jarang sebuah kerajaan dipimpin oleh Ratu. Dengan demikian kita tidak dapat mengatakan bahwa budaya tradisional di Sulawesi Selatan itu mengekang perempuan. Malah sangat menghormati perempuan tanpa menutup ruang ruang sosialnya.
Kilasan umum perspektif tradisional tentang Pernikahan di Sulawesi Selatan
Di Sulawesi Selatan, pernikahan adalah prosesi adat yang paling sakral. Memakan waktu yang paling lama dan proses yang rumit. Ini tidak lepas dari pandangan bahwa penyatuan dua insan adalah hal metafisik. Bukan persoalan cinta-cinta monyet ala anak muda sekarang. Pernikahan, juga bukan sesederhana sebuah event peresmian suami istri. Namun jauh melampaui itu. Pernikahan adalah penyatuan dua rumpun keluarga. Hal ini menyebabkan, orang tua tidak sembarang menikahkan anaknya. Sebab orang tua tidak mau sembarang berbesan dengan orang yang dalam perspektifnya kurang layak. Terkadang dalam sebuah keluarga, mereka menjodohkan anak-anaknya. Terkadang sebaliknya, memberi kebebasan memilih jodoh asal jangan berasal keluarga keluarga tertentu.
Bila seorang lelaki (yang dianggap tidak layak) melamar perempuan, maka salah satu model proteksi terhadap perempuan adalah dengan memasang uang panai yang tinggi. Terkadang, uang panai dijadikan simbol status oleh keluarga tertentu. Sebenarnya ini bukan budaya asli. Sebab dimasa lalu sudah ada tetapan berapa mahar perempuan sesuai dengan grade kebangsawanannya.Poinnya adalah tak ada orang tua yang ingin masa depan anaknya suram dengan menikahi lelaki yang dianggap tidak layak.
Oleh karena itu, anak perempuan diproteksi. Jika sebuah keluarga aristokrat ingin mempertahankan posisi sosialnya dimasyarakat, maka ia akan memproteksi anak perempuannya dari lelaki dari keluarga non aristokrat. Jika sebuah keluarga pengusaha ingin mempertahankan posisi sosial ekonominya, maka ia akan mengusahakan menikahi perempuan dari aristokrat atau dari sesama pengusaha.
Dengan demikian keturunan (cucu) kelak dapat mewarisi posisi sosial ekonomi dimasyarakat. Jadi proteksi terhadap anak perempuan sebenarnya ditujukan bukan hanya agar kelak mendapat suami yang pantas, namun kelak keturunannya bisa mewarisi posisi sosial ekonomi tersebut.
Cinta dalam perspektif manusia modern
"Cinta adalah dari mata turun kehati". Begitu pandangan umum tentang cinta. Ia adalah hasil persepsi indrawi dan pengalaman empiris. Di masa sekarang, interaksi antara pemuda dan pemudi sangat mudah. Baik secara langsung maupun lewat internet. Sehingga orang modern saat ini sangat mudah jatuh cinta dibandingkan orang orang dulu. Gonta ganti pacar adalah hal yang lumrah saat ini.
Orang tua yang menjodohkan anaknya disaat sekarang, dianggap kolot, kampungan dan ketinggalan zaman. "Sekarang bukan zaman Siti Nurbaya, tapi zamannya Siti Nurhaliza", begitu semboyan anak muda yang tidak ingin kebebasan cintanya dikekang oleh adat dan budaya. "Siti Nurbaya" adalah simbol penjajahan cinta.
Cinta menuju pernikahan dalam perspektif manusia modern, kurang memperhitungkan hubungan kedua orang tua (sesama besan), dan posisi sosial ekonomi yang kelak diwariskan ke anak keturunan. Disini perbedaan mendasar pernikahan dalam perspektif tradisional dan modern di Sulawesi Selatan.
Cinta menuju pernikahan dalam perspektif manusia modern, kurang memperhitungkan hubungan kedua orang tua (sesama besan), dan posisi sosial ekonomi yang kelak diwariskan ke anak keturunan. Disini perbedaan mendasar pernikahan dalam perspektif tradisional dan modern di Sulawesi Selatan.
Ada desakralisasi cinta yang menghantam manusia modern. Cinta tak lebih sekedar hasrat pada lawan jenis sehingga mengabaikan faktor faktor pendukung terbentuknya keluarga, misalnya agama,status dan sebagainya. Intinya, pernikahan adalah faktor cinta (empiris) semata. Disini kadang terjadi dinamika antara anak muda yang hendak menikah (dengan perspektif modern) dan orang tua yang punya kepentingan pada anak cucunya kelak (dengan perspektif tradisional).
Mencari jalan tengah untuk pemuda yang hendak menikah
Satu hal yang harus dipahami oleh anak muda yang hendak menikah adalah, tak ada orang tua yang ingin menikahkan anaknya dengan orang yang tidak pantas. Cuma, terkadang ada perbedaan perspektif tentang "kepantasan" tersebut. Disinilah tantangan sebenarnya.
Seorang pemuda harus mampu memahamkan keluarga perempuan bahwa ia adalah lelaki yang bertanggung jawab. Sementara perempuan harus memperjuangkan cintanya dikeluarganya.
Bila seorang lelaki datang melamar dengan gaya koboy, untung kalau dipasang uang panai yang mahal. Bila apes, langsung ditolak. Artinya, seorang pemuda hendaknya keluar dari ego cintanya. Ia harus belajar memahami kondisi calon mertua bila ia juga ingin dipahami kondisinya sebagai calon menantu.
Dengan adanya kesepahaman antara pihak lelaki dan perempuan maka biaya pernikahan yang mahal, bisa diselesaikan melewati jalur lobi sesuai dengan budaya setempat.
Sebagai penutup saya ingin katakan bahwa, tidak selayaknya masalah internal keluarga Risna didramatisasi sedemikian rupa sehingga menjadi masalah nasional. Tetapi itu adalah dinamika antara budaya tradisional dan fenomena manusia modern dengan perspektif berbeda yang menimpa banyak pasangan di Sulawesi Selatan. Dan yang penting bahwa, semua masalah pasti punya jalan keluar jika kita keluar dari ego kita. Ego bahwa cinta kita harus dimaklumi oleh orang tua tanpa mencoba memaklumi ego orang tua itu sendiri.
EmoticonEmoticon