Pamor dan Sissi' pada Polobessi Sulawesi (Resensi Buku : Pamor dan Senjata Pusaka Sulawesi dan Maknanya)

Di masa lalu, Sulawesi (tepatnya Luwu) dikenal penghasil besi. Kerajaan Luwu yang dikaruniai tanah yang kaya dengan kandungan besi, dimasa lalu sering mengekspor ke berbagai kerajaan lain dinusantara. Dengan kualitas Panre yang mumpuni, konsepsi kosmos masyarakat, menyebabkan kayanya karya-karya senjata besi (Polobessi) baik senjata tikam seperti badik, keris, senjata tebas seperti alameng, sinangke, maupun tombak.

Banyak pendapat mengaitkan produksi besi ini dengan asal mula kata Sulawesi. Hingga hari ini di Sulawesi (khususnya selatan dan barat) bertebaran berbagai jenis senjata pusaka dengan pamor yang beragam.
Sampul buku
 Orang Sulawesi umumnya mencintai besi. Di masa lalu, sebilah badik atau keris dianggap sebagai saudara sehidup sematinya. Selain itu, orang Sulawesi suka menyimpan atau mengoleksi berbagai ragam besi.

Cek : Perang dalam tradisi Bugis Makassar

Secara pribadi, saya lebih suka memahami sissi' sebagai "karakter khas berdasar bentuk benda bersangkutan". Dalam naskah lontara, ada yang menjelaskan tentang sissi' meong, sissi' anynyarang, sissi' tau dan sebagainya (Sissik kucing, kuda, manusia dsb). Demikian pula sissi' bessi.
Dalam buku "Pamor Senjata Pusaka Sulawesi dan Maknanya", Pamor didefinisikan sebagai "Ure' (urat) atau rupa berupa motif dan guratan tertentu yang dihasilkan dari proses penempaan bahan pamor senjata pusaka sehingga menghasilkan bentuk disebut pamor".

Di masa lalu, ketika seseorang memesan senjata (badik, keris dsb), maka biasanya sang Panre akan menanyakan (atau berusaha memahami karakter pengguna). Sehingga dalam proses pembuatannya, sang Panre akan menyesuaikan pamor dan sissi' besi yang dihasilkan dengan karakter individu si pemakai. Dengan demikian, polobessi ini menjadi identitas bagi pemakai. Begitu sang pemakai pertama hendak mewariskan pusaka pada keturunannya, ia akan memilih anak/keturunan yang karakternya paling mendekati dirinya. Sehingga sangat sering dalam sebuah keluarga, diantara banyak anak/keturunan, hanya anak/keturunan tertentu saja yang diwariskan pusaka.
(Dua Lalan dan Badik Luwu : koleksi pribadi)
Pada buku yang ditulis saudara A.Tenriewa yang berjudul "Pamor dan Senjata Pusaka Sulawesi dan Maknanya" disebutkan 39 pamor pilihan. Buku yang isinya full color ini membuat pembaca dalam melihat detil pamor dan memahami penjelasannya. Diantara pamor tersebut adalah, Daung Ase, Kurissi, Uleng-mpuleng, Bunga Cella'/Pejje, Kuribojo, Mabbalesse, Cappa palari, dan sebagainya.
Contoh Tombak

Menariknya, karena selain gambar yang jelas dan keterangan yang detail, juga dipaparkan tentang makna maupun filosofi dari pamor tersebut. Selain itu juga berisi petunjuk bagi yang berminat untuk memiliki senjata besi.(bab II). Disebutkan 5 acuan untuk bahan pertimbangan antara lain :
  1. Sisi keindahan (Pamor dan warangka yang indah)
  2. Tingkat sepuh (Ketuaan)
  3. Keunikan bentuk dan pamor
  4. Tuah dan makna filosofi pamor
  5. Gabungan semua diatas (hal. 9)
Buku ini juga mengutip Lontara Bessi (bab III) tentang bagaimana cara mengenali tanda baik atau buruk pada ragam polobessi. Selanjutnya dibahas tentang mengenali ragam pamor dan ketandaan yang diungkap lontara (bab IV). Jenis pamor yang tergolong langka (bab V). Buku ini ditutup dengan saran dan pendapat penulis tentang hal yang perlu diperhatikan dalam memilih senjata pusaka (bab VI).  Buku Pamor dan Senjata Pusaka Sulawesi dan Maknanya, adalah referensi wajib bagi pencinta pusaka sulawesi. Mengingat minimnya karya tulis tentang Polobessi dan sulitnya mengakses pengetahuan tentang polobessi.(arm)

Untuk pemesanan : www.badiksulawesi.com
Judul : Pamor dan Senjata Pusaka Sulawesi dan Maknanya
Pengarang : Tenri Ewa
Penerbit : Nerbitkanbuku.com (grup CV.Writing Revolution)
Halaman : 142 + vi full color
Cetakan : Pertama, Januari 2014

Kunjungi Artikel Terkait

2 komentar

makasih mas infonya, blog sudah saya follow kalau berkenan follow back yah :D


EmoticonEmoticon